Halaman

Jadilah Ahlu Quro' Yang Di Cintai Nabi



            Ahlul Qurro’merupakan istilah bagi orang yang sering membaca al-Quran, orang yang mencintai al-Quran juga mereka para penghafal Quran. Pun juga al-Quran merupakan mu’jizat yang telah Allah berikan kepada Nabi Muhammad untuku matnya. Beruntungsekali mereka yang mau mendedikasikan diri dan mengorbankan diri mereka untuk memperjuangkan juga menyebarkan ilmu-ilmu al-Quran kepada sekalian umat.
Sampai-sampai beliau shollallahu ‘alaihiwassalam memuji para Ahlul Qurro’ dalam sabdanya:
خيركم من تعام القراْن وعلمه (رواه البيهقي)
“Orang yang paling baik diantara kalian adalah mereka yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya”
            Ulama mengatakan:
من انت عند الله, لا من انت عند الناس
“Kedudukan apa yang engkau telah capai dihadapan Allah? Bukan kedudukanmu di hadapan manusia”. Adapun yang di maksud dalam hadist di atas adalah orang yang paling baik kedudukannya di mata Allah bukan sebaliknya
Maka dari itu jika kita ingin mendapat khususiyah atau kekhususan yang telah di paparkan oleh Rasul shollallahu ‘alaihiwassalam di atas, sudah sepatutnya kita ubah mindset dari malas membaca al-Quran menjadi gemar membacanya.
Sungguh tidak ada ruginya jika kita menjadi Ahlul Qurro’. Bahkan menjadi Ahlul Qurro’ bisa memantik ridho Allah dan Rasul-Nya.
Nabi shollallahu ‘alaihiwassalam pernah bersabda:
            “Barangsiapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya maka perhatikanlah. Jika ia mencintai al-Quran (dengan cara menghafalnya atau memperbanyak membacanya) maka sungguh ia telah dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya” <Khosoisul al-Ummat al-Muhammadiyah : 204>
Dengan demikian, tulisan singkat ini akan penulis fokuskan kepada khususiyah para Ahlul Qurro’ serta bagaimana seharusnya seorang yang ingin menjadi Ahlul Qurro’ yang dicintai oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihiwassalam.
Termasuk khususiyah yang Allah berikan kepada Ahlul Qurro’ adalah Allah menjanjikan pahala yang sebegitubanyaknya bagi mereka yang gemar membaca al-Quran. Sebagaimana termaktub dalam hadist, Nabi pernah bersabda:
Sahabat Ibnu Mas’ud berkata: “aku pernah mendengar Nabi shollallahu ‘alaihiwassalam bersabda: “barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Quran) sungguh ia telah mendapatkan satu kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” <KhosoisulUmmatuMuhammadiyah: 201>
Di ceritakan dalam kitab Fawaidul Mukhtaroh al-Habib Ali bin Hasan Baharun mengatakan: “Berbeda dengan dzikir-dzikir pada umumnya juga dengan hadist dan ilmu-ilmu lainnya, membaca al-Quran akan terus mengalir pahalanya walaupun kita tidak mengetahui maknanya secara global, bahkan jika kita tidak mengetahuinya sama sekali” <FawaidulMukhtaroh: 174>
Dan yang paling mulianya khususiyah yang Allah berikan kepada mereka Ahlul Qurro’ adalah kelak akan membuat setiap orang tua bangga di hari kiamat. Karena Rasul shollallahu ‘alaihiwassalam pernah bersabda:
“Tidak ada satu orang pun yang mengajaria nak-anaknya al-Quran di dunia kecuali Allah beri kemuliaan –mereka para orang tua- dengan memakaikannya mahkota dari surga. Dan semua orang yang ada pada saat itu mengetahui mahkota tersebut bahwasanya ia telah mengajarkan anaknya al-Quran di dunia”
Para ulama banyaksekali menggambarkan tentang gambaran Ahlul Qurro’. Diantaranya adalah Habib Ali al-Habsyi. Beliau pernah mengatakan: “Aku sangat heran kepada orang yang mengatakan “Aku sumpek, aku sedang merasa susah” padahal ia mempunyai al-Quran”
Juga Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Tekunilah dalam membaca al-Quran karena di dalamnya terdapat obat dan bias melapangkan dada”
Nah, yang telah di paparkan di atas hanyalah nol koma sekian persennya dari keutamaan Ahlul Qurro’ yang pernah penulis baca dan dengarkan dari penjelasan para asatidzah. Masih ada sekian ribu abrek lagi keutamaan yang akan diperoleh para Ahlul Qurro’ yang tidak bias diperinci karena terbatasnya waktu.
Setelah pemaparan singkat di atas masih enggankah kita untu kmencintai al-Quran terlebihlagi menjadi Ahlul Qurro’?
Dan yang selanjutnya adalah bagaimana menjadi Ahlul Qurro’ yang dicintai oleh Nabi shollallahu ‘alaihiwassalam. Karena terbatasnya waktu penulis hanya akan memaparkan beberap akiat cara untuk menjadi Ahlul Qurro’ nya Nabi, yang penulis rangkum sebagai berikut:
1.      Perbanyak membaca al-Quran sebagaimana yang telah di jelaskan di atas, karena besar sekali manfaat yang kembali kepada kita.
2.      Menjaga kehormatan al-Quran. Tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci (berwudhu), meletakkannya di tempat-tempat yang mulia.
3.      Khusu’ di setiap membacanya. Dengan mencoba merenungi, memahami dan meresapi apa yang dibaca. Bahkan jika sampai di ayat-ayat yang menerangkan tentang kesedihan atau azab hendanknya ia menangis. Jika tidak bisa maka berpura-puralah menangis. Sebagaimana perkataan Sayyidina Abu Bakar:
فان لم تستطيع البكاء فا ليتباكاء
“Jika tidak bias menangis maka berpura-puralah menangis (berusaha sebisa mungkin untuk bias menangis)”
4.      Mempelajari, mengamalkan –apa yang ia baca –serta mengajarkan al-Quran kepada umat Nabi Muhammadshollallahu ‘alaihiwassalam. Karena barangsiapa yang memperhatikan keadaan umat Nabi Muhammadshollallahu ‘alaihiwassalam maka ia akan mendapat perhatian langsung dari sang Nabi shollallahu ‘alaihiwassalam <keterangan dari pengajian Habib Segaf Baharun ketika mengisi seminar di  Ponpes Darullughah Wadda’wah.>
5.      Jangan pernah luput satu hari pun dari membaca al-Quran.
Sebagai penutup alangkah baiknya kita selalu berintropeksi diri. Sudahkah kita mencintai al-Quran? Sudahkan kita menjaga waktu kita untuk tidak luput satu hari pun dari membacanya? Jika belum mari sama-sama kita bergerak memperbaiki diri agar kita menjadi hamba-Nya yang cinta terhadap al-Quran. Juga menjadi hamba yang dicintai oleh Nya dan juga Rasul-Nya.


Tuntunan Solat Menurut Riwayat Hadis “Khaifa Tushalli”

          

          Nama Kitab : Tuntunan Solat Menurut Riwayat Hadis “Khaifa Tushalli”
          Pengarang : Kh. Ihya Ulumuddin
          Halaman : 381 Halaman
          Cetakan : An-Nuha Publishing, Pp. Nurul Haromain, Pujon, Malang

     Solat adalah ibadah inti umat ini, yang membedakan antara agama ini dengan agama lain, solat juga merupakan amal ibadah yang paling pertama dihisab oleh allah SWT. Jika semua ibadah diwahyukan oleh allah lewat malaikatnya, solat merupakan hadiah langsung yang diberikam allah kepada nabi kita Muhammad Sollawlohualaihiwasalam tanpa perantara siapapun. Allah berfirman dalam al-quran :
وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارۡكَعُوۡا مَعَ الرّٰكِعِيۡنَ‏ ﴿۴۳-البقرة﴾
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'”
Sebagai orang islam kita harus mengetahui setiap ibadah yang kita lakukan, khususnya solat,karna solat ibadah yang petama kali dihisab dan juga ibadah yang sanggat allah cintai. Jika kita ingin mengetahui budi pekerti seseorang apakah ia baik atau tidak maka bsa kita nilai ia dari solatnya. Dan dengan solat juga bisa memcegah seseorang berbuat perbuatan kehi dan munkar, sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-ankabut -45 :
تْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون
“Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. “
   
      Dari sini dapat diketahui bahwasanya solat itu penting bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Maka banyak dari ulama mutaqoddimin dan muta’akhirin yang berlomba-lomba menuang pemahamannya tentang solat di dalam kitab-kitab mereka. Hingga akhirnya di era modern ini masih banyak ulama yang memperhatikan solat bagi umat ini, salah satunya ialah KH. Ihya ulumuddin, beliau lantas membuat kitabnya yang bernama ‘khaifa tusholli’ , di muqoddimahnya beliau membandingkan umat nabi era sahabat dengan umat era modern ini. Kalau di era sahabat mereka tidak hanya menjadikan sholat sebagai kewajiban atau ibadah saja, akan tetapi dijadikan sebagai sarana komunikasi dan sarana untuk mencapai ridhonya. Berbeda dengan umat era modern ini dimana umat ini hanya menjadikan sholat sebagai kewajiban yang selalu dianggap beban yang memberatkan mereka,.
Kitab ini juga memiliki keistimewaan tersendiri, seperti disebutkan khilaf-khilaf hadist dan pendapat-pendapat ulama tentang gerak dan bacaan sholat dengan gambar yang didesain sedemikian rupa untuk memudahkat pembaca dalam memahami teks hadist ataupun pendapat ulama yang beliau tulis
Dan itusemua tidak lain untuk membangkitkan semangat kita dalam beribadah dan taat kepadanya dengan melakukan syariat sesuai dengan arahan Nabinya dan juga agar kita tidak termasuk dalam orang yang lalai dalam solat dan yang paling inti adalah untuk mencapai ridonya, Amiin.

     Al-habib idrus bin umar al-habsyi menjelaskan tentang ayat diatas dalam kitabnya ‘Al-Fuyudhat Ar-Robbaniyah’ bahwa الصَّلاةَ yang dita’rifkan (diketahui) dengan ال memberikan pemahaman bahwa solat tidak akan bisa mencegah dari kekejian dan kemunkaran kecuali orang yang melakukannya itu melakukannya sesuai dengan ajaran Nabi kita Muhammad Sollawlohualaihiwasalam. Dengan menjaga hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan dalam solat dengan disertai khusu’ dan hadirnya hati hingga menjadikannya sempurna dan bisa mencegah orang yang solat tersebut dari perbuatan keji dan munkar.

Jangan Takut Berbuat Kebaikan

Hidup di dunia ini amatlah sangat singkat, detik demi detik yang kita lewati sangat tidak mungkin untuk bisa diulang, kesempatan beramal soleh serta menumpuk pahala untuk mencapai ridhonya tidak akan bisa dilakukan lagi ketika nyawa sudah sampai dikerongkongan. Maka orang bijak adalah orang yang selalu sadar akan kekurangan dirinya dan tidak menyia -nyiakan setiap detik yang ada yang sudah dianugrahkan allah kepadanya, karna ia tau setiap detik yang sudah ia lewati sangat mahal harganya dan tidak bisa ditukar dengan dunia barang sedikitpun.
Di dalam hadistnya, Rosulullah telah mengibaratkan bahwa hidup di dunia ini ibarat musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan). Beliau bersabda :
“ كن في الدنيا كانك غريب او عابر سبيل “
“ Jadilah engkau hidup didunia ini seperti orang asing atau musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan)”. .
Sahabat Ibnu Umar menanggapi hadist tersebut dengan mengatakan
"اذا امسيت فلا تنتظرصباح, واذا اصبحت فلا تنتظر مساء, وخذ من صحتك لمرضك, ومن حياتك لموتك"
“ apabila engkau (berada) di sore hari maka jangan menunggu di pagi hari (untuk mengerjakan kebaikan), dan jika engkau (berada) di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore hari. Dan pergunakanlah waktu sehatmu sebulum datang waktu sakitmu, dan pergunakanlah (sebaik-baiknya) hidupmu sebelum datang ajalmu”
Ulama mengibaratkan juga hidup di dunia seperti kita ingin pergi menempuh perjalanan jauh. Sebelum sampai tujuan kita akan banyak menemukan tempat bersinggah. Dari alam ruh kita pergi kea lam rahim, dari alam rahim kita terus berjalan hingga ke alam dunia, dan kita terus akan banyak menemui tempat bersinggah hingga kita sampai ketujuan yaitu alam akhirat.
Karna hidup didunia ini amatlah sangat sebentar, sebelum kita sampai tujuan wajib bagi kita untuk mengisinya dengan berbagai kebaikan dan amal soleh serta menjadi insan yang berguna bagi sesama, sesuai dengan sabda beliau:
“ خير الناس انفعهم للناس”
“sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”
Jadi untuk apa kita menunda – nunda kebaikan di perjalanan yang sangat sempit ini, jika kita di takdirkan mempunyai harta yang lebih, kita bisa mengarahkannya untuk sesuatu yang bermanfaat seperti membantu pembangunan pondok, masjid, madrasah atau yang lainnya. Dan dengan uang tadi kita bisa membantu faqir, miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Jika kita diberi kelebihan dalam ilmu kita bisa mengajarkannya kepada orang lain, menuntun orang untuk selalu berbuat amal soleh. Bukankah nabi pernah bersabda :
من دل علي خير فله مثل اجر فاعله " "
“ barang siapa yang menunjukan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala, seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut “
Berapa banyak pahala yang kita dapatkan jika kita dapat mengarahkan umat untuk berbuat kebajikan, kalau pun kita tidak memiliki harta dan ilmu kita masih bisa memberikan manfaat kepada umat dengan tenaga ataupun pikiran. Walhasil tidak ada orang yang tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain selagi ada kemauan.
Dan janganlah pernah lupa bahwasanya allah SWT telah berfirman dalam firmannya :
“"ومن يعمل مثقال ذرة خير يراه
“ Barang siapa yang mengerjakan sesuatu yang kecil (dari kebaikan, maka pasti) ia akan dibalas (dengan kebaikan).
Dan juga rusulallah pernah menjanjikan kepada kita di dalam sabdanya :
“"من كان في حاجة اخيه كان الله في حاجته
“ Barang siapa yang bersedia membantu keperluan saudaranya, maka allah SWT akan senantiasa membantu keperluannya”
Pada akhirnya di dunia yang fana ini, di kehidupan yang singkat ini, mari kita perbanyak amal soleh dan kebaikan untuk mencapai ridhonya. Karna, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan tidak akan sia-sia dihadapan-Nya dan agar kita tidak menyesal kelak ketika kita sudah sampai pada tujuan.

Jadilah Ahlu Quro' Yang Di Cintai Nabi

Oleh: A.Zulqisti zein              Ahlul Qurro’ merupakan istilah bagi orang yang sering membaca al-Quran, orang yang mencintai al-...